Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mencegah Informasi Hoaks Di Era Digital Menurut Perspektif Islam

Hukum siber atau cyber law, secara internasional digunakan untuk istilah hukum yang terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Istilah lain yang digunakan adalah hukum teknologi informasi (law of information technology) dan hukum dunia maya (virtual world law).  Lahirnya UU ITE ini merupakan tonggak bersejarah bagi diakuinya hukum telematika atau hukum siber (cyber law) di Indonesia. 

Sesuai Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik, dalam pasal 45A dijelaskan bahwa orang yang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam pasal 28 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).  

Mencegah Informasi Hoaks Di Era Digital Menurut Perspektif Islam
HOAX

Fatwa Mejelis Ulama Indonesia Nomor 24 Tahun 2017, tentang hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial dijelaskan bahwa barang siapa meproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten/informasi tentang hoax, ghibah, fitnah, namimah, aib, bullying, ujaran kebencian, dan hal-hal lain sejenis terkait pribadi kepada orang lain dan/atau khalayak hukumnya haram.  Allah sangat mengecam orang-orang yang membuat ataupun ikut andil dalam menyebarkan berita bohong, padahal ia belum tahu kebenaran dari sebuah berita tesebut. Hal ini telah diperingatkan Allah dalam QS. An-Nur: 14-15.

Artinya: “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar”.  (QS. An-Nur: 14-15) 

Abu Ja’far Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan sekiranya tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu, mereka yang membicarakan dan menyebarkan berita dusta, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.  Dari penjelasan ayat ini, apabila seseorang tersebut ikut andil membuat dan menyebarkan (share) berita hoax, maka ia juga patut mendapatkan ancaman azab Allah, karena walaupun perkara itu terlihat remeh, tapi Allah menganggap perkara itu besar, karena perkara ini sangat berkaitan dengan menghancurkan kerhamonisan hubungan sesama manusia.

Orang yang berkontribusi dalam membuat dan menebarkan informasi hoax termasuk orang-orang munafik. Tujuan kaum manafik dengan menebar berbagai berita bohong adalah untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi kaum mukmin, menyalut kekacauan (provokasi) dan menebar kegalauan serta menghadirkan ketidakamanan masyarakat.  Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab: 60.

Artinya: “Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar”. (QS. Al-Ahzab: 60) 

Dari penjelasan ayat di atas, bahwa orang-orang yang memberitakan berita bohong itu termasuk orang-orang munafik.  Orang yang suka berdusta itu sesungguhnya mendapat dua kali kerugian. Pertama, jika kebohongannya tidak diketahui, dia akan mendapat dosa dari perbuatan tercela itu. Kedua, jika kebohongannya diketahui orang lain, mereka akan kehilangan kepercayaan, bahkan, kepadanya akan disematkan predikat pendusta atau pembohong.  


Oleh karena itu, marilah kita menjadi orang-orang yang berkata benar tanpa memberitakan berita kebohongan, karena hal tersebut sangat membahayakan orang lain maupun diri sendiri. Intinya bahwa Al-Qur’an sangat mengecam orang yang ikut andil dalam membuat dan menyebarkan berita bohong bahkan pelalu hoax termasuk dari ciri-ciri orang munafik. Memproduksi dan menyebarluaskan hoax merupakan dosa besar, berakibat memicu api fitnah yang dapat merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Menangkal Informasi Hoaks Di Era Digital Menurut Perspektif Islam
Dalam menghadapi era informasi dan digital yang mengglobal dewasa ini, orang beriman dituntut untuk bersikap selektif dalam menanggapi informasi yang diterimanya, baik yang disampaikan secara langsung maupun melalui media massa.  Oleh karena itu, orang beriman dituntut untuk lebih bersungguh-sungguh dalam membendung berita-berita yang meruntuhkan citra saudara-saudaranya sesama orang beriman, berikut ini cara menangkal informasi hoaks di era digital menurut perspektif Islam:

Bersikap hati-hati terhadap informasi yang datang dari kelompok orang memusuhi Islam - Sebagai sebuah jihad, maka menulis adalah jihad dengan qalam (pena). Musuh utamanya adalah orang-orang kafir yang selalu menyebarkan fitnah tentang Islam. mereka berdusta dan menyebarkan kedustaan tersebut di berbagai media. Benarlah apa  yang difirmankan-Nya dalam QS. Al-Kahfi: 5.

Artinya: “Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka; mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta”.(QS. Al-Kahfi: 5) 

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang kafir senantiasa mengucapkan hal-hal dusta. Maka tulisan yang mereka buat sering kali adalah kedustaan pula.  Dikalangan media yang dimiliki oleh jaringan Yahudi, ada adigium yang terkenal dan selalu di pakai sebagai rumus media yaitu: “kebohongan yang selalu diulang-ulang akan dianggap sebagai kebenaran”.  Dari konsep “kebohongan yang selalu diulang-ulang”, telah menjadi mantra sakti yang akan  menggiring opini menyesatkan. Sehingga sudah selayaknya kita untuk berhati-hati dengan propoganda  mereka dalam memusuhi Islam.

Tidak tergesa-gesa menerima postulasi kebenaran suatu berita - Setiap informasi yang datang pasti memiliki benang merah dengan informasi berikutnya dan implikasinya yang mengikutinya. Hal ini karena dalam jurnalisme modern, setiap informasi yang disiarkan umumnya telah melalui berbagai pertimbangan redaksional dan kepentingan politik, sosial, serta budaya tertentu, sebagai misi dari tempat informasi itu berasal. Oleh karena itu, sepatutnya kita tidak tergesa-gesa dalam menerima apalagi menyebarkan informasi tersebut.

Menghidupkan nalar (hifd al-aql) - Tuntunan syariat yang pas untuk membentengi diri terhadap informasi palsu dan sesat adalah hifd al-aql atau menjaga akal sehat. Dalam ajaran Islam, akal termasuk salah satu keutamaan atau hal primer yang harus dijaga selain agama, jiwa, keturunan dan harta. Bahkan, tingkatannya sudah taklif (kewajiban dalam syariat).  Sejauh ini, hoax adalah informasi menyimpang dari fakta yang masih dapat diteliti dengan menggunakan pikiran. Oleh karena itu, hoax dapaat diberantas menggunakan senjata akal sehat.

Melakukan koreksi (check dan recheck) terhadap kebeneran berita yang dibawa oleh orang lain - Allah. Swt telah memerintahkan kepada hamba-hambanya yang beriman, untuk melakukan verifikasi (pembuktian kebenaran) dan klarifikasi (penjelasan) dalam menyampaikan dan menyebarluaskan berbagai berita.  Sebagaiamana firman Allah dalam QS. Al-Hujarat: 6.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa  mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujarat: 6) 

Asy-Syanqithi dalam Tafsir Adhwa’ul Bayan dijelaskan apabila orang yang fasik membawa sebuah berita yang diragukan kebenarannya, maka wajib dilakukan tatsabbut (cek dan ricek atau investigasi) padanya. Dalam ayat ini Al-Qur’an merekomendasikan kita untuk melakukan tabayyun atau memeriksa informasi yang diperolah dari berbagai sumber dengan teliti dan kritis. Dalam konteks ini terutama bagi netizen bisa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu melalui perbandingan informasi di media lain, atau membuka referensi dari sumber utamanya.

Menghindari diri dari informasi yang datang secara negatif dan mendatangkan mudharat bagi diri sendiri maupun orang lain - Ucapan yang baik adalah ucapan yang mengandung kebenaran dan memberi manfaat.  Sekiranya seseorang mengetahui bahwa ucapannya tidak akan membawa manfaat, bahkan akan menimbulkan mudharat atau bahaya bagi dirinya dan lingkungan, maka semestinya ucapan tersebut ditinggalkan. Firman Allah dalam QS. Fathir: 10

Artinya: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lahkemuliaan itu semuanya. kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. dan rencana jahat mereka akan hancur”. (QS- Al-Fathir: 10) 

Maksudnya ayat diatas ialah bahwa perkataan baik dan amal yang baik itu dinaikkan untuk diterima dan diberi-Nya pahala. Salah satu aturan dalam peyebaran berita adalah mixmize truth, minimize harm. Siapapun yang menggugah berita harus memastikan tindakannya selalu memaksimalkan pencarian kebenaran dan meminimalkan dampak kerugian bagi orang lain.  Untuk itu penting sekali seseorang dapat memilih dan memilah  informasi yang benar atau hanya mendatangkan mudharat bagi orang lain maupun kelompok sebelum informasi tersebut di terima dan disebarkan ke publik.

Mencermati Informasi secara teliti (judul, alamat situs dan gambar) - Berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif, misalnya dengan langsung menundingkan jari ke pihak tertentu. Cermati alamat situs untuk informasi yang diperoleh dari website atau mencantumkan link.  Selain dalam bentuk tulisan, hoax juga bisa ditemukan dalam bentuk tayangan gambar.  Hindari informasi yang berasal dari akun anonim, akun anonim baru diciptakan dengan memanfaatkan fasilitas sosial media untuk menebarkan berbagai propoganda baru.  Akun anonim merasa bebas memaki, melintir fakta, menggoreng isu dan menebar hoax, mereka berani melakukan tersebut karena merasa tak bakal ketahuan. Penting sekali mencermati informasi secara teliti baik dari judul, sumber dan gambar guna menghindari diri dari opini yang menyesatkan.

Ikut serta grub anti-hoaks serta berperan aktif melaporkan informasi  hoaks dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar - Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grub diskusi anti-hoaks, misalnya  Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoaks (FAFHH), Turn Back Hoax, serta Indonesia Hoax Buster.  Di grub-grub diskusi ini, kita bisa ikut bertanya apakah suatu informasi merupakan hoaks atau bukan. Sekaligus melihat klarifikasi yang sudah diberikan oleh orang lain. Salah satunya ikut andil dalam melaporkan informasi hoaks, seperti mengadukan konten negatif ke Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan melayangkan    e-mail ke alamat aduankonten@gmail.kominfo.go.id. 

Baca Juga:

Jahri Mahfus
Jahri Mahfus Seorang Penulis dan Freelancer

Posting Komentar untuk "Mencegah Informasi Hoaks Di Era Digital Menurut Perspektif Islam"

Berlangganan via Email