Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pendayagunaan Potensi Hutan Mangrove Secara Berkelanjutan Sebagai Sumber Energi Terbarukan (Bioetanol Dari Nira Nipah)


Pendayagunaan Potensi Hutan Mangrove  Secara Berkelanjutan Sebagai Sumber Energi Terbarukan (Bioetanol Dari Nira Nipah)Membangun warga negara untuk pelestarian lingkungan merupakan hal yang amat penting, sebab realitasnya hingga saat ini menujukkan bahwa kesadaran masyarakat dalam berbagai bentuk perilaku menceriminkan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan ini terjadi tidak hanya pada sekelompok orang tertentu, tetapi meliputi hampir semua kalangan masyarakat.

Arus globalisasi, modernisme, dan perkembangan teknologi telah menghempaskan seluruh wilayah kehidupan manusia dan membawa dampak besar, tidak hanya pada aspek kehidupan sosial, ekonomi, maupun politik namun merambah secara sistemik keseluruh aspek kehidupan lain seperti aspek budaya dan lingkungan. Hal yang tidak dapat di pungkiri bahwa perkembangan teknologi dan tingginya intensitas kegiatan manusia di muka bumi menimbulkan banyak dampak destruktif terhadap jejaring ketidakseimbangan ekosistem yang bermuara pada berbagai mala petaka alam berupa bencana bagi manusia dan kerusakaan lingkungan itu sendiri

Pada dasarnya manusia mampu mengelola alam dengan baik, yakni sesuai dengan kebutuhan-kebutahan yang secukupnya. Namun demikian ada sifat lain dari manusia yakni keserakahan terhadap segala sesuatu. Keserakahan manusia telah menyebabakan perubahan lingkungan yang sagat cepat. Manusia hendaklah memahami tanggung jawab terhadap lingkungan hidup, semua wajib menjaga lingkungan agar kelangsungan hidup manusia dapat terjamin. Oleh karena itu manusia hendaklah menghentikan sikap merusak alam dan menggantinya dengan perbuatan baik dalam upaya pelestarian alam. 

Indonesia dikenal sebagai paru-paru dunia karena di Indonesia banyak hutan-hutan tropis yang berfungsi sebagai penyaring udara dunia. Hutan juga merupakan sumber daya alam yang memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan manusia, baik manfaat yang dirasakan secara langsung, maupun yang dimanfaatkan secara tidak langsung. Indonesia mempunyai berbagai jenis dan klasifikasi hutan yang banyak salah satunya adalah hutan mangrove. Keberlangsungan kehidupan mahluk hidup di wilayah pesisir sangat tergantung  pada kondisi lingkungan yang ada disana. Ekosistem mangrove di definisikan segala tumbuhan yang khas terdapat disepanjang pantai atau mutiara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air, baik bersifat biotik maupun abiotik.

Seiring dengan laju pertumbuhan jumlah penduduk dan pembangunan, maka fungsi lingkungan ekosistem mangrove di beberapa daerah telah menurun atau rusak mengingat letaknya yang strategis, banyak kepentingan yang menyebabkan kawasan hutan mangrove  mengalami perlakuan yang melebihi peruntukannya. Adapun akibat dari kerusakan hutan mangrove menyebabkan abrasi pantai, dapat mengakibatkan banjir, perikanan laut menurun, serta sumber mata pencaharian penduduk menjadi berkurang. 

Sungguh sangat disayangkan, pendayagunaan potensi hutan mangrove cendrung bersifat dekstruktif dan ekstraktif serta tidak mengindahkan undang-undang pelestarian alam. Eksplotasi hutan mangrove dilakukan secara besar-besaran melebihi kemampuan regenerasinya. Hutan mangrove yang seharusnya sebagai penyangga keseimbangan ekosistem diubah menjadi kawasan industri, pertambakan, pemukian, dan peruntukan lainnya terjadi secara tidak terkendali.

Oleh karena itu pendayagunaan potensi hutan mangrove perlu dilakukan secara berkelanjutan dalam arti kata sebuah prinsip yang dilakukan untuk menjaga kelestarian sumber deya alam (SDA) dalam jangka penjang agar keuntungan dari segi ekonomi dan pelestarin lingkungan alam tetap berjalan dengan seimbang.

Sumber Daya Hutan Mangrove Indonesia: Potensi dan Permasalahannya

Mangrove adalah merupakan tumbuhan yang unik sebab mampu beradaptasi terhadap lingkungan yang minim oksigen, substrat yang labil serta adaptasi terhadap air yang memiliki salinitas.  Jumlah Hutan mangrove di Indonesia mencapai luas labih kurang 3,49  juta hektar dan sekitar 877.000 hektar (20,6%) ditetapkan sebagai hutan konsensi. Hutan mangrove sebagai habitat bagi banyak satwa liar. Fauna mangrove hampir mewakili semua phlum, meliputi protozoa sederhana sampai dengan burung, reptilian dan mamalia.  Adapaun jenis tumbuhan mangrove berupa pohon bakau, api-api, pidada, nipah, jeruju dan paku laut. Keberagaman flora dan fauna hutan mangrove merupakan anugrah luar biasa yang berpotensi menjadi pusat penelitian, pendidikan, dan serta sebagai sumber energi terbarukan.

Bukan rahasia umum lagi, jika hutan mangrove (bakau) di wilayah pesisir banyak yang rusak. Umumnya, kerusakan hutan disebabkan adanya penebangan liar hingga alih fungsi  menjadi perkebunan, perumahan, dan pembangunan industri. Diperkirakan hutan mangrove indonesia telah menyusut 1,82 juta hektar dalam kondisi rusuk. Dari hasil studi menyebutkan salah satu faktor penyebab kerusakan lingkungan mangrove adalah The Failure of Market Value (kegagalan pasar), dalam memberikan nilai ekonomis/finansial yang setara untuk jasa sumber daya alam dan lingkungan. Rusaknya hutan mangrove pada umumnya adalah konsekuensi dari derasanya beban ekonomi yang diprioritaskan dibanding nilai sumber daya alam dan lingkungan yang di eksplotasi.

Selain itu, dalam tulisan John Haba dan Robert Siburian, dikatakan bahwa kerusakan mengrove dapat terjadi antara lain karena kurang pahamnya masyarakat akan fungsi mangrove. Rendahnya pengetahuan masyarakat di iringi dengan desakan ekonomi mengharuskan masyarakat mengeksplotasi hutan tampa memperhatikan kelangsungan ekosistemnya.

Oleh karena itu sebagai upaya pelestarian ekosistem mangrove diperlukan sebuah pendekatan yang dinilai mampu menjembatani permasalahan masyarakat yang ada dikawasan pesisir, seperti ketidatahuan akan fungsi dan manfaat mangrove, masalah kemiskinan dan kurangnya sumber daya manusia (SDM) dalam pendayagunaan potensi mangrove secara berkelanjutan. Hal ini tidak lain bertujuan sebagai upaya meningkatakan kesejahteraan masyarakat pesisir Indonesia.

Komodifikasi Hasil Nira Nipah menjadi Bioetanol Sebagai Sumber Energi Terbarukan Secara Inovatif dan Berkelanjutan

Solusi penyediaan energi hijau bioetanol dari tanaman merupakan langkah mengatasi krisis energi fosil (Minyak Bumi), sehingga diperlukan energi terBarukan sebagai pengganti energi yang akan habis.  Buah Nipah termasuk jenis mangrove yang banyak tumbuh di pesisir Indonesia, nira nipah dapat dijadikan bahan baku etanol yang dapat dijadikan bahan bakar nabati pengganti bahan bakar minyak bumi. Etanol yang dapat dihasilkan adalah sekitar 11.000 liter/ha/tahun, jauh lebih unggul dibandingkan kelapa sawit (5.000 Liter/ha/tahun), untuk itulah hendaklah memanfaatkan nira nipah sebagai sumber energi terbarukan dengan mengolahnya sebagai bahan baku etanol.

Pada intinya nira nipah memberikan kontribusi dalam menunjang ekonomi masyarakat pesisir sebagai pemasok nira nipah secara tradisional. Namun dalam pemanfaatan harus tetap memperhatikan aspek ekologi dan fisik dari hutan mangrove tersebut, sehingga dampak dari pemanfaatan dapat dihindari sebagai upaya pelestarian kawasan mangrove. Sudah saatnya singkronisasi antara pemerintah dan masyarakat dalam mengeluarkan kebijakan tentang pemberdayaan potensi hutan mangrove menjadi sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Selain itu, perlu juga dilakukan penyuluhan terhadap masyarakat tentang potensi dan manfaat tumbuhan mangrove secara luas serta membutuhkan bimbingan agar dapat memanfaatkan hasil hutan mangrove secara optimal.
Jahri Mahfus
Jahri Mahfus Seorang Penulis dan Freelancer

Posting Komentar untuk "Pendayagunaan Potensi Hutan Mangrove Secara Berkelanjutan Sebagai Sumber Energi Terbarukan (Bioetanol Dari Nira Nipah)"

Berlangganan via Email