Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Terkurung badai bersama taman sekolah, kenangan bersama sahabat

Terkurung badai bersama taman sekolah, kenangan bersama sahabat - Tugas makin hari, makin menumpuk jika tidak dikejar malah menjadi tumpukan barang yang gak ada habisnya, buat ribet saja, resiko jadi pelajar penuh dengan tugas – tugas rumah.

Karna tidak mood sema sekali membuat saya malas sekali menulis hari ini, namun sekejap berpikir akhirnya saya teringat tentang kejadian malam kemaren dimana saya dan sahabat saya terjebak di badai hingga tidak bisa pulang kerumah.

Mungkin pengalaman seperti inilah yang paling berkesan bersama sahabat, hingga tidak telupakan ketika sudah punyak anak cucu kelak, hehe, bisa saling berbagai dengan teman lama.

Mungkin cerita ini bisa anda jadikan juga sebagai referensi untuk menulis cerpen atau cerita pengalaman hidup, mana tahu juga bisa bermanfaat untuk pembaca sekalian.

Judul cerita : Terjebak Di tengah badai
Gaya cerita : Persahabatan

 

“Terjebak Di tengah badai”

Menjelang memasuki tengah semester, tugas  - tugas semakin banyak, namun pelajaran yang kami peroleh masih banyak ketinggalan, akhirnya guru memutuskan untuk menambah jadwal pelajaran tambahan pada malam hari yaitu dari pukul  19.00 hingga 20.00 WIB.

Kami dalam satu lokal cukup kecewa sih, soalanya jadwal aktivitas kami menjadi terganggu, tapi mau bagaimana lagi, kami harus tunduk dan patuh pada peraturan yang telah dibuat, dari pada harus mengulang kembali 1 tahun yang hanya menambah masalah.

Akhirnya kami semua sepakat mengadakan jadwal tambahan belajar pada malam kamis sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebelumnya. cerita ini diawali selepas pulang sekolah, saya (rizki) dan teman saya ahem dan auf dan teman lain ingin ngumpul barang melem ini, karna mementum seperti ini jarang terjadi dimalam hari, biasnya hanya waktu pagi atau siang hari.

Akhirnya, jam sudah menunjukkan pukul 18.40, saya bergegas pergi kesekolah setelah sholat magrib, namun apes banget hari ini karna cuaca memang benar – benar tidak terlalu mendukung ditambah lagi aliran lisrik di desa saya selalu tidak stabil sehingga pemadaman selalu terjadi.

Sebenarnya saya sih mau demi, karna lampu selalu saja mati dari tahun 1990 hingga 2016, sampai sekarang tidak tau penyebab utamanya apa, jika ditanya ke petugas listrik, jawabannya bervariasi ada yang menyatakan mesin mengalami kerusakan, ada juga yang menyatakan kekuatan mesin tidak mampu menampung pemakaian yang banyak sehingga proses hidup dan matai lampu harus di gilir dari desa ke dasa. 

Saya cuman bilang “O” di iringan sejuta tanya. Jikalau seperti itu kenapa asupan pemakaian amper dari rumah – kerumah selalu ditambah, seharusnya menambah kekuatan daya listrik terlebih dahulu sebelum menambah pemakaian, yang lebih herannya lagi, ketika penggunaan mesih di paksakan untuk melakukan hal yang tidak mungkin tentu saja mesin akan mudah rusak, sehinga tentu saja mesin listriknya mudah rusak, jika dihitung dari segi keuntungan tentu saja mengalami kerugia, tapi saya tidak tahu perhitungan mereka, karna mereka lebih tahu. Cuman bisa berharap bisa berubah tahun 2017.

Artikel terkait lainnya :  Bingung mencari ide menulis, lakukan 7 tips berikut!

Akhirnya saya tetap memaksakan untuk pergi kesekolah, karna saya tahu sekolah saya memiliki mesin diset. Akhirnya saya sampai pukul 19.00, bisa dikatakan on time.

Saya cukup terburu – buru karna saya takut termbat, maklum guru saya ini sangat sensitif dengan urusan disiplin, bisa jadi walaupun datang hanya telah satu detik, bisa saja dihitung terlambat, hal ini cukup berbahaya dengan nilai akhir, mana saya orang-nya pemalan lagi ditambah tidak terlalu pintar, hanya bisa berharap dari kemaun saya untuk belajar saja serta selalu hadir diruang kelas tampa mengecewakan guru.

Waktu terus berlalu, hingga memasuki jam 19.20, tetapi guru saya belum datang juga, semuanya terasa memiliki mimik – mimik wajah kecewa walaupun menyembunyikannya dengan selfi dan photo sana sini.

Bagi saya dan teman – teman saya sih suka – suka saja, karna kami hari ini pengen pergi kemarkas kami untuk minum kopi susu bereng. Karna lelah menunggu, akhirnya kami memutuskan untuk sholat isya dulu.

Setelah selesai sholat isyar, kami masih mendapat kabar kepastikan apakah guru kami ini datang atau tidak, namun seteleh pukul 20.20 wib akhirnya, guru saya datang juga.

Terpaksa deh kami harus pulang agak malam, karna jadwalnya tidak sesuai dengan kesepakatan, alasannya karna jadwal ini masih baru jadi butuh penyusuaian, kami semua hanya ea, ea kan saja. 

Akhirnya proses belajarpun berlangsung dengan hikmat, walupun banyak sekali nyamuk jika belajar di malam hari, untuk kedepannya harus bawa sofel anti nyamuk biar bisa konsen.

Wakut telah menunjukkan jam 21.30 wib. Aktivitas belajar-pun dihentiikan, semuanya bergegas untu pulang, terutama untuk budak ceweknya, maklum tidak baik perempuan keluyuran pada malam hari, tepi entah-lah dijaman edan sekarang, semuanya bukanlah hal yang tabu lagi.  Tapi tatap harus berpikir positif thinking.

Akhirnya kami satu geng pergi kemarkas untuk menghabiskan waktu sebentar saja sambil minum kopi susu di warung cik kopi, namun sayang sungguh sayang, tidak semua diajak setuju, karna banyak tugas yang harus diselesaikannya, akhirnya kami yang hanya terdiri 6 orang pria dari 31 siswa (31 – 6 = 25 wanita) hanya 5 orang saya yang bisa ikut, karna yang satunya ada keperluan tugas untuk besok, katanya.

Waktu terus berlanjut, cuacapun semakin tidak bisa diajak untuk menjadi teman, petir badai, halilintar terus koar –koar, tapi cuaca seperti ini tidak dapat kami rasakan karna sanking asiknya ngobrol masalah cewek.

Maklum saja ya, ketika geng pria berkumpul pada umumnya hanya akan berbicara pada bab wanita, dan begitu juga ketika geng wanita berkumpul hanya akan berbicara bab pria, hehe hanya ada 1 persen saya yang berbicara masalah pelajar besok hari.

Terkurung badai bersama taman sekolah, kenangan bersama sahabat
Terkurung badai bersama taman sekolah, kenangan bersama sahabat

Akhirnya hari semakin larut, pada pukul  22.00, teman saya yang bemana ansor dan zrum pamit untuk pulang dulu, disoalkan lokasi tempat tinggal mereka jauh banget, bisa menempuh 1 jam lebih, jika kecepatan sedang  bisa jadi 2 jam lamanya, maklum jalan di lokasi kami sangat tidak mendukung sama sekali.

Akhirnya tinggallah kami bertiga yaitu ahem dan auf, soal yang diceritakan sungguh beragam, hingga masalah yang seharusnya tidak perlu diceritakn menjadi keluar juga, karna sahabat di percaya dengan baik.

Karna orang tua khawtir dirumah sehingga saya memutuskan untuk pulang saja karna jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Namun tiba- tiba hujan lebat berguyur hingga saya menunda untuk pulang.

Akhirnya kampun terjebak di badai yang lebat, walaupun berada di warung coffe namun area-nya sangat kecil sehingga air hujan bisa masuk, ditambah lagi dengan listrik yang padam hingga menambah suasana menjadi mencengkam. 

Jam menunjukkan pukul 00.00 akhirnya aku putuskan untuk menginap saja di rumah teman yang dekat, sebelum itu aku dan teman – teman mengabarkan informasi ini terlebih dahulu kepada orang tua, akhirnya mereka mengijinkan.

Waktu terus berlalu kami tidak bisa pergi kemanapun hanya bisa duduk di warung coffe yang cukup kecil sehingga udara dingin air hujan benar – benar dirasakan,  tapi alhamdulliha warung coffe buka sampai jam 02.00.

Saya dan teman – teman benar tidak bisa melakukan hal seperti ini, bahwa boleh dibilang ini adalah pengalaman perdana, kejadian yang tidak pernah dilihatpun dapat di lihat pada pukul 00.00 hingga menjelang jam 01.00 dini hari.

Saya dan teman saya ahem dan auf terkesan seperti anak berandalan, dan preman  pasar, hehe padahal anak ingusan. Lanjut cerita, suasanapun makin memanas karna ujuan semakin tidak bisa ajak kompromi di sertai sahut – menyahut antara gledek dan kilat, saya dan teman saya hanya bisa merasakan dingin-nya angin malam yang menembus tulang.

Saya tidak bisa menceritakan apa – apa yang dilihat namun saya bisa mengambil isi  dan bisa dijadikan pengalaman atau sebuah informasi untuk diri pribadi bahwa begini toh ketika malam sudah berlalu.

Akhirnya ketika pukul 01.00 hujam mulai mendadak ringan, namun untuk menghindari hal – hal yang tidak di inginkan kami memutuskan untuk segera kembali ke tempat yang lebih aman.

Namun kendala yang kami alami adalah kami tidak tahu harus kemana karna tadi sudah memberi tahu orang tua untuk bermalam di rumah teman, akhirnya pikir sana dan sini kami putuskan untuk menginap di rumah paman auf.

Tampa banyak bicara berpikir kami berangkat menembus hujan yang masih mengguyur, sampai baju benar – benar basah, di sepanjang jalan kami menemukan abang gorengan yang masih menjajakan gorengannya, namun saya lihat masih penuh, mungkin ini karna hujan dan cuaca hari ini yang cukup tidak bersahabat, akhrnya kami memutuskan untuk membeli gorengan tesebut, lumayan untuk menjajal perut yang lapar dimalam hari.

Ternyata abang gorengan cukup baik, ia banyak memberikan gorengan untuk kami, walaupun itu terlalu banyak sih, pasti berlebih sekali untuk porsi kami bertiga.

Akhirnya kamipun sampai di rumah paman auf, kendalapun kami alami lagi yaitu rumah sudah terisi dengan motor yang  banyak sehingga untuk memasukkan motor kami bertiga cukup sulit, akhirnya dengan berbagai akal akhirnya kamipun berhasil memasukkannya, sebenarnya bisa saja meletakkan motor di luar rumah, namun karna beberapa hari ini banyak isu – isu orang kehilangan motor, hal ini bertujuan antisipasi saja, agar hal – hal yang tidak di inginkan tidak tejadi.

Akhirnya ceritapun memasuki ending, kamipun menyantap secangkir teh, di barengi dengan gorangan yang cukup banyak, cerita – cerita sedikit, pukul 02.30 kamipun tidur dan bangun pada pukul 05. 00 dan akhir cerita kami-pun pulang kerumah masing – masing untuk sholat subuh dan siap – siap untuk berangkat ke sekolah, dan melanjutkan perang tidur di sekolah.

Inilah pengalaman hidupku bersama teman – teman yang terjebak di tengah badai hebat disertai dengan situasi yang menurut saya tidak baik untuk anak – anak seusia kami. 

Semoga teman – teman saya bisa membaca artikel ini agar dia bisa mengingat pengalaman kemaren hingga remaja, dewasa dan menjadi orang tua, hehe. Ini diary-ku  bersama teman- temanku.

Pelajaran yang bisa diambil yaitu : jangan terlalu lama keluyuran dimalam hari karna kadan g-  kadang suatu hal bisa terjadi terutama yang masih menjadi anak ingusan seperti saya, selalu mengabari orang tua jika sudah dalam keadaan darurat agar orang tua tidak cemas, saling mendukung antara teman, serta saling menghargai dan menyonsong rasa kebersamaan bersama teman – teman. 

saya anggap bahwa sahabat itu adalah teman yang selalu memberikan dorongan saat kita jatuh, ketika kita sukses kita bantu dia, ketika kita susah dia ada untuk kita. Best frends forever for 2B.

Baca juga:

Jahri Mahfus
Jahri Mahfus Seorang Penulis dan Freelancer

Posting Komentar untuk "Terkurung badai bersama taman sekolah, kenangan bersama sahabat"

Berlangganan via Email