Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Literasi Digital Sebagai Kecakapan Hidup di Era Digital Di Tengah Ancaman Informasi Hoaks

Pengertian Hoaks - Istilah berita bohong (hoax) dalam Al-Qur’an bisa didefinisikan sebagai Al-Ifk yang berarti keterbalikan. Tetapi yang dimaksud di sini adalah kebohongan besar, karna kebohongan merupakan pemutarbalikan fakta.  Menurut Jejen Musfah  hoaks adalah berita bohong yang bertujuan mendiskreditkan individu atau kelompok.  Sedangkan menurut Rizem Aized berita bohong (hoax) adalah berita yang memang dibuat untuk tujuan merusak.  Artinya, berita hoax tidak dibuat berdasarkan dari fakta yang ada, tetapi untuk menciptakan fakta negatif pada diri seseorang.

Literasi Digital Sebagai Kecakapan Hidup di Era Digital Di Tengah Ancaman Informasi Hoaks
Apa Itu Hoax?

Hoax sendiri bukan suatu yang baru, namun keberadaan media sosial telah membuat dampak hoax jauh lebih besar dari sebelumnya.  Agar dapat terkategorikan sebagai hoaks, sebuah kebohongan harus memiliki nilai lebih, seperti bersifat dramatis atau sensasional. Lebih dari itu, ia harus mampu menyedot perhatian publik. Publik menjadi semacam kata kunci. 

Sebab, tidak ada hoaks yang sifatnya privat.  Kata kunci dalam memahami hoax  ini adalah penipuan ke publik. Maksudnya pembeda hoax dengan penipuan dan kebohongan lainnya adalah pada karakteristiknya yang menjangkau khalayak luas, populer dan masif.  Kesimpulannya hoaks adalah informasi yang tidak berdasarkan fakta atau data, melainkan tipuan dengan tujuan memperdaya masyarakat dengan model penyebaran yang masif.

Literasi Digital Sebagai Kecakapan Hidup di Era Digital Di Tengah Ancaman Informasi Hoaks - Semakin kuatnya pengaruh teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari telah mengubah cara berkomunikasi masyarakat. Setiap waktu bermunculan perangkat dan teknologi baru yang makin melekatkan publik kepada kehidupan era digital.  Booming era digital memang memberikan dampak besar pada kehidupan. Pertumbuhan data di internet yang tidak pernah berhenti disebut dengan digital data explosion dimana pertumbuhan data bersifat seperti ledakan. Ledakan ini begitu dahsyat sehingga mempengaruhi berbagai bidang kehidupan. 


Dengan adanya ledakan informasi yang begitu besar sehingga mengakibatkan masyarakat bisa mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dengan memanfaatkan teknologi internet.  Hal yang perlu dikhawatirkan dengan adanya ledakan informasi itu adalah adanya informasi yang tidak sesuai dengan kebutuhannya, informasi yang salah atau lebih dikenal dengan informasi hoax, untuk itu penguasan literasi digital sudah menjadi keharusan bagi setiap individu di tengah ancaman informasi hoax  yang tinggi.

Digital literacy diartikan sebagai kemampuan untuk membaca, memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti komputer.  Literasi digital juga diartikan sebagai kompetensi menggunakan internet dan mengevaluasi kontennya.  Perintah literasi (membaca) dijelaskan dalam QS. Al-Alaq: 1.

Artinya: “bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan”. (QS. Al-Alaq: 1) 

Jika dihubungkan dengan era digital, membaca disini dikaitkan dengan keterampilan teknis mengakses, merangkai, memahami, dan menyebarluaskan informasi. Dalam prakteknya yakni kapasitas atau kompetensi memanfaatkan media, baik memahami dan mengevaluasi konten berita yang diterima. Intinya penguasaan literasi digital akan menciptakan tatanan masyarakat dengan pola pikir dan pandangan yang kritis dan kreatif. Mereka tidak akan mudah termakan oleh isu yang provokatif, menjadi korban informasi hoaks, atau korban penipuan yang berbasis digital. Dengan demikian kehidupan sosial dan budaya masyarakat akan cenderung aman dan kondusif. 

Baca Juga:

Jahri Mahfus
Jahri Mahfus Seorang Penulis dan Freelancer

Posting Komentar untuk "Literasi Digital Sebagai Kecakapan Hidup di Era Digital Di Tengah Ancaman Informasi Hoaks"

Berlangganan via Email